Film Soegija: Napak Tilas Bangsa

Image

Penulis: Agatha Gisela Jenni Anggita <http://www.blogger.com/profile/10204690439263393357>

“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan keluarga besar.
Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian, dan permusuhan.” (Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ)

Apa yang dapat saya katakan usai menonton film kolosal garapan Garin Nugroho tgl 29 Mei 2012?
Saya speechless.

Dialog yang bagai mutiara bermunculan satu per satu, mengharukan, sekaligus sarat makna.
Pesannya beragam, mulai dari kebangsaan, keimanan, kemanusiaan, multikulturalisme, dan feminisme.
Begitu soft, namun menghanyutkan.

Mengalir sekali, sampai-sampai kalau tidak dihayati, film ini tidak akan benar-benar bermakna.

Menonton film ini bagai proses napak tilas melihat perjalanan bangsa tahun 1940-1949.

Mungkin beberapa dari Anda yang belum menonton menunggu-nunggu bagaimana kekejaman Belanda dan Jepang dalam film ini terlukiskan.

Tentunya tidak, karena kekejaman yang dialami rakyat Indonesia di masa lalu karena penjajahan tentunya tidak akan dapat terlukiskan dengan begitu hebatnya di masa sekarang.
Kita hanya dapat membayangkannya lewat tulisan perihal sejarah.

Film ini berbicara dalam suara yang lain, dalam sudut pandang yang lain. Bukan hendak menampilkan kebencian atau kekerasan atau perang pada saat itu.

Indonesia pada saat itu, belum merdeka. Merdeka dalam arti sesungguhnya.
Mungkin saat sekarang ini pun masih ada yang mengatakan belum sepenuhnya merdeka.
“Apa artinya terlahir sebagai bangsa yang merdeka, jika gagal untuk mendidik diri sendiri?”
Begitu kata Soegija dalam buku hariannya.

Perannya dalam masa-masa sulit ketika menjadi Uskup sungguh luar biasa. Dia hadir sangat penting ketika bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya sebagai sebuah bangsa. Kehadiran tersebut bukan kehadiran dalam fisik. Melainkan kehadirannya dalam berdiplomasi serta keterlibatannya dalam peristiwa-peristiwa pra dan pascakemerdekaan.

Ia berdiri tegar, ikut berusaha bersama bangsa ini di saat kelahirannya.

“Jika rakyat kenyang, biar para imam yang terakhir kenyang.
Bila rakyat kelaparan, biar para imam yang pertama kelaparan.”
Soegija memang pantas diberi gelar pahlawan.

Bukan hanya karena dia seorang rohaniawan, tetapi juga karena teladan dan pesan kemanusiaan yang dibawanya. Kritik sosial lewat dialog-dialog menggigit cocok ditujukan untuk pemimpin bangsa ini.
Film ini merupakan karya anak bangsa untuk bangsa. Jauh dari isu-isu kristenisasi atau semacamnya.
Percayalah, kalau pun tidak tontonlah.

Garin di sambutannya begitu memukau dengan kalimat-kalimatnya yang mencerahkan.
Katanya, kurang lebih, buatlah film tentang agamamu, bebaslah berekspresi, dan berkreativitas.
Ketika kebebasan berekspresi dan berkreativitas masih dikurung artinya memang kita belum benar-benar merdeka.

Agama seharusnya menjadi jalan untuk melihat banyak hal dari sudut pandang beragam dan luas, bukan sebaliknya.

Saya tercengang dengan dialog yang bercampur-campur, ada bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Belanda, bahasa Inggris. Hal itu sangat khas dan patutlah diacungi jempol bagi penulis naskah yang dengan berani dan hebat dapat menampilkan multikulturalisme lewat bahasa.
Pemakaian bahasa ini terasa pas dan menggambarkan bangsa kita saat itu.

Artistik dan sinematografi yang khas Garin pun sangat terasa. Pada beberapa adegan kalian akan dibuat berdecak kagum dengan latar luar biasa: senja dengan para prajurit membawa tombak menaiki bukit hendak bergerilya.

Musiknya? Hmmm… Jangan ditanya, siapa yang menyangsikan Djaduk coba? Musiknya menjadi teman yang begitu asyik. Pastinya ingin dimiliki oleh kita usai menonton. Salah satunya lagu Tanjung Perak yang dibuat versi Belandanya di film itu. Saya jadi bertanya-tanya, mana duluan Belanda dalam film atau lagu Tenjung Perak?

Di samping bercerita tentang peran Soegija membantu rakyat yang kelaparan dan terluka akibat perang, terselip kisah cinta antara ibu (yang diperankan Olga Lydia) dan anaknya Ling-Ling (Andrea Reva).
Mereka keturunan Tionghoa yang membantu menyediakan makanan bagi Soegija. Pertanyaan mengiris terlontar dari sang anak yang menanyakan perihal dirinya kepada Sorgija, “apa karena kami Tionghoa?”
Dengan bijak Soegija menjawab, “kita tidak pernah tahu dan minta terlahir sebagai orang apa, Jawakah, Tionghoakah, dst…”

Berakhir bahagia, Ling-Ling yang terpisah dari ibunya bertemu kembali di Gereja ketika Ling-Ling sedang berdoa diiringi musik dansa kesukaannya dengan ibunya.

Seorang tentara Jepang Nobuzuki, (Suzuki), yang hendak menduduki Gereja Randusari, dilawan dengan kata-kata oleh Soegija,
“Ini adalah tempat suci, saya tidak akan memberi izin.

Penggal dulu kepala saya, baru tuan boleh memakainya.”
Mereka pun pergi. Dari sisi Nobuzuki kita tidak melihat kekejaman di perbuatannya.
Melainkan perasaan iba karena perintah mengharuskan dirinya berperang. Terlukiskan di perannya, betapa dia sangat mencintai keluarganya, betapa rindunya dia pada anak-anaknya.Saya ingat kata teman saya, usai kemerdekaan Indonesia, Belanda dan Jepang seperti hendak menyimpan rapat-rapat bahwa mereka pernah menjajah.

Orang-orang yang kembali ke sana usai perang seolah tak diakui.
Mereka pun punya rasa bersalah dan malu karena perbuatan mereka.

Pada bagian ini saya memang merasakan agak kurang greget, tapi pesannya tetap sampai yaitu, kisah tentang Mariyem (Annisa Hertami) yang terpisah dengan Maryono (Abe).
Maryono meninggalkan Mariyem untuk ikut serta berperang.

Dengan pesan tunggu aku dan aku akan melihat kamu jadi perawat berakhir dengan tragis. Mariyem menemukan Maryono meninggal. Di tengah proses menunggu Mariyem menjadi perawat, mencatat orang hilang, merawat yang sakit. Hendrick (Wouter Braaf), seorang fotografer asal Belanda, berkali-kali ditolak Mariyem. Berkali-kali dengan alasan bangsamu itu yang membuat kami seperti ini.

Jika Soegija melindungi Gereja dengan kata-kata seperti di atas, Mariyem melindungi rumah sakit dengan kalimat berbeda. Ketika rumah sakit diserang oleh pimpinan tentara Belanda, Robert (Wouter Zweers), Mariyem membela,
“Saya Maria, ibu dari orang-orang yang sakit di sini.
Saya yang bertanggung jawab atas tempat ini.
Di sini tidak ada lawan, tidak ada sekutu, di sini hanya ada kawan.”

Bisa dibayangkan, setiap orang di sana mengambil bagian dengan cara berbeda-berbeda. Perempuan pun pada masa itu, tidak melulu di kamar. Akan tetapi, ikut serta dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan. Robert yang mengklaim dirinya hanyalah “mesin perang” menemukan kerinduan ketika melihat bayi yang ayahnya telah dia bunuh. Baik Robert atau Nobuzuki berakhir di tangan para pejuang kemerdekaan kita.

Jika dianalisis dengan pendekatan postkolonial tentu akan menghasilkan kekompleksan psikologi antartokoh di dalamnya.

Peran tokoh sampingan dalam film ini pun kuat. Kita melihat Butet yang berperan sebagai koster, pembantu Soegija, dengan dialog khas pembantu yang cukup membuat penonton tertawa geli.
Namun, tetap terasa menggigit karena kritik sosial perihal kepemimpinan hendak ditonjolkan di sana.
Lain lagi dengan seorang pejuang kecil yang membuat penonton geli.

Berulang kali dia diajarkan membaca yang dia tahu hanyalah mengeja tulisan m-e-r-d-e-k-a.
Dialognya yang menyentil dalam salah satu adegan ketika dia berkata kepada kawannya, yang mengajarinya membaca, “Orang pinter malah ngambil uang rakyat.”

Apalagi yang dapat saya katakan, tontonlah dan rasakanlah. Agama dan bangsa keduanya ternyata dapat berjalan beriringan. Berjalan beriringan demi kemanusiaan (demi humanisme) dengan memperjuangkan nilai-nilai universal yaitu cinta kasih. Bukan berusaha mencampur aduk keduanya.

Menjadi 100% Katolik sekaligus 100% Indonesia. Begitu pun yang lain, jadilah 100% Islam, 100% Indonesia, atau 100% Budha, 100% Indonesia, atau 100% Hindu, 100% Indonesia, atau 100% Kristen, 100% Indonesia, atau 100% Konghuchu, 100% Indonesia, dsb..

(faith, hope, love, (dan yang terbesar adalah kasih))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s